Cahaya dalam lentera
Jiwa ragaku tak lagi terkurung lesu
Berdiri tegak di antara tubuh-tubuh yang perkasa
Membendung dermaga
Menggemakan cita-cita para wanita
Atau bahkan pelayan-pelayan yang terbungkam jiwanya
Tak lagi merunduk patuh membisu
Magnet-magnet tradisi yang begitu . ironi
Membungkam, memasung, bahkan. mencerca harga diri
Lalu berdirilah engkau seorang putri kartini
Menggertak setiap pasang mata
Memberontak merombak pasung-pasung penindasan
muryana ovikq extyaningrum
Selasa, 05 Juni 2018
Selasa, 27 Maret 2018
Pohon Jambu Air dan Ulat Bulu
Pohon jambu air kini tak rindang lagi, daunya mulai gugur berserakan di atas tanah yang subur. Rantingnya berjatuhan ada amarah dan kesedihan yang tak bisa diungkapkan. Seakan sudah putus asa dengan nasib hidupnya.
Di desa selor pohon jambu tersebut nampak seperti tumbuhan liar, tak pernah ditanam tak pernah pula dirawat. Tepatnya di atas ladang subur berwarna merah kecoklatan milik tuan Darmono. Pohon jambu berderet empat banjar itu kini tak mampu berbuat banyak. Biasanya musuhnya hanya Si Ulat kecil yang sering menggerogoti daunya. Si pohon jambu hanya menunggu datangya hujan lebat agar hewan menjijikkan itu segera hilang dari daunya. Namun kini musuhnya bukan lagi si ulat bulu melainkan si pemilik tanah yaitu Tuan Darmono. Pohon Jambu rupanya telah mengetahui niatan Si pemilik tanah.
Tuan Darmono penuh ambisi untuk menebang Si Pohon Jambu. Tak lain untuk membuat bangunan baru berupa ruko tepat di atas tanah yang kini di tumbuhi 12 pohon jambu berukuran besar. Kali ini tuan darmono keliling ladang yang di tumbuhi Si pohon jambu. Nampaknya dia sedang berfikir tentang rencana pembuatan ruko tersebut.
Si pohon jambu mulai berbisik dengan ulat-ulat yang kini merangkak di dahan dan rantingnya.
“hai ulat tak bosan bosanya kau hinggap di tubuhku, aku geli dan jijik melihatmu”. ucap si pohon jambu penuh kekesalan.
“aku butuh makan, Pohon-pohon yang lain sudah tak hijau lagi semuanya layu dan hampir mengering “. Jawab Si ulat bulu dengan suara lirih seoalah memohon.
“masa bodoh aku tidak perduli dengan mu. Mau makan atau tidak bahkan mati sekali pun itu bukan urusanku. Kau juga tak memberiku manfaat apa pun. Semoga saja ada hujan dan angin lebat agar kau segerah terjatuh”. Suara si pohon jambu semakin keras.
“sungguh kau tak punya rasa iba padaku”. Kembali lagi si ulat meminta.
Nampaknya musim penghujan telah tiba. Sudah menjadi tradisi bagi ulat-ulat untuk memperbanyak generasinya. Daun-daun mulai berlubang menandakan para ulat telah makan kenyang. Tempat paling nyaman bagi ulat mungkin memang daun. Bukan hanya untuk makan, saat hujan dan panas si ulat juga bersembunyi di baliknya. Pohon jambu sudah terbiasa dengan kebiasaan si ulat. Meskipun kadang ada rasa kesal.
Kali ini Si pohon jambu merenung memikirkan bagaimana caranya agar ia tak jadi di tebang oleh si pemilik tanah. Ia mulai berdiskusi dengan pohon-pohon yang lain, dan lagi lagi mereka tak menemukan jalan keluar. Si ulat diam diam mendengarkan pembicaraan si pohon jambu. Rupanya si ualt ikut memikirkan bagaimana caranya agar si pohon jambu tidak jadi ditebang.
Tiba-tiba Tuan Dramono datang kembali dengan membawa istrinya. Rupanya tuan darmono ingin meminta pendapat istrinya.
“bagaiman menurutmu jika kita mendirikan usaha di atas tanah ini?”. Tanya Tuan Darmono kepada sang istri.
“aku setuju, aku juga sudah lama ingin mendirikan usaha sendiri. Aku sudah bosan menjadi buruh pabrik, penghasilanmu sebagai kuli juga tak mencukupi kebutuhan kita. Kapan kau akan menebang pohon jambu ini. Toh pohon ini juga tak memberi kita keuntungan. Pohonya sudah tak berbuah lagi, mungkin karena sudah cukup tua”.
“masalah pohon gampang, nanti akan ku panggilkan tukang gergaji mesin yang biasanya menebang pohon-pohon besar”. Sahut tuan darmono sembari pergi meninggalkan ladangnya.
Pohon-pohon jambu mendengarkan pembicaraan si pemilik tanah, Ia kembali ketakutan.
“apa yang harus kita lakukan ?”. salah satu pohon berbicara kepada teman-temanya.
“aku punya ide” sahut pohon jambu yang lainya.
“apa ide mu?”. tanya pohon yang lainya dengan penuh penasaran.
“bagaimana jika kita berbuah lagi supaya manusia itu tak menebang kita”.
“ide bagus” ucap pohon jambu yang masih muda.
Dari arah pojok ,pohon paling tua berkata “aku sudah tak mampu untu berbuah. Tubuhku sudah semakin tua. Hanya ada tiga pohon yang masih muda dan masih biasa berbuah. Lalu bagaimana dengan pohon lain yang sudah tua?. Si pohon berukuran besar mempertimbangkan pendapat pohon yang masih muda.
“percuma saja kalian berbuah niatan Tuan Darmono sudah bulat untuk menebang kami”.
Pohon-pohon jambu kembali memikirkan cara agar bisa bertahan hidup. Mereka kembali berdiskusi dan berbisik dengan pohon di sebelahnya untuk mencarikan jalan keluar yang tepat. Si ulat kemudian ikut berfikir jika pohon jambu di tebang ia harus tinggal di mana dan makan apa. Selama ini ia sudah nyaman berada di tubuh pohon jambu. Kali ini si ulat bulu benar-benar di buat bingung. Sembari berfikir, seperti biasa ia menggerogoti daun si pohon jambu.
“ulat cobalah kau berfikir jangan hanya makan saja. Jika aku ditebang kau mau makan apa?. Lebih baik kau kau segera pergi. Tubuhku akan di tebang dan dahanku ku akan mengering. Kau tak mungkin bisa makan dan bersembunyi di balik daun ku”.ucap si pohon jambu yang berusaha mengusir si ulat bulu.
“aku tidak akan pergi. Aku punya ide agar kalian tak jadi di tebang”
“hewan kecil sepertimu bisa apa ?. kau saja menumpang di tubuhku. menambah beban saja”. Ucap pohon jambu yang menyepelekan si ulat.
“dengarkan dulu ide ku. Aku yakin ini akan berhasil.” Suaranya lantang penuh keyakinan.
“apa ide mu hewan menjijikkan?”.
“aku akan mengundang para ulat untuk hinggap di tubuh mu. Saat manusia itu datang aku akan menyuruh pasukan ulat untuk menjatuhkan dirinya tepat di tubuh manusia itu. Aku yakin manusia itu akan lari karena melihat segerombolan ulat yang hinggap di tubuhnya. Dia tak akan berani lagi menebang pohon mu. Karena manusia itu akan merasa gatal yang luar biasa jika sampai bulu ku terkena kulitnya”.
“ide yang bagus aku setuju dengan ide mu ulat. Aku tidak pernah berfikir kau secerdik ini. Ternyata kau bermanfaat juga”. Si pohon jambu benar-benar kagum dengan ide si ulat.
Akhirnya si pohon jambu berdamai dengan para ulat bulu dan mereka bekerja sama. Berkat kecerdikan si ulat bulu, pohon jambu kini masih berdiri kokoh. Saat itu pula persahabatan Si Ulat Bulu dan Si Pohon Jambu dimulai. Kini Si Pohon Jambu tak pernah bertengkar lagi dengan Si Ulat Bulu.
Pati, Maret 2018
Pohon jambu air kini tak rindang lagi, daunya mulai gugur berserakan di atas tanah yang subur. Rantingnya berjatuhan ada amarah dan kesedihan yang tak bisa diungkapkan. Seakan sudah putus asa dengan nasib hidupnya.
Di desa selor pohon jambu tersebut nampak seperti tumbuhan liar, tak pernah ditanam tak pernah pula dirawat. Tepatnya di atas ladang subur berwarna merah kecoklatan milik tuan Darmono. Pohon jambu berderet empat banjar itu kini tak mampu berbuat banyak. Biasanya musuhnya hanya Si Ulat kecil yang sering menggerogoti daunya. Si pohon jambu hanya menunggu datangya hujan lebat agar hewan menjijikkan itu segera hilang dari daunya. Namun kini musuhnya bukan lagi si ulat bulu melainkan si pemilik tanah yaitu Tuan Darmono. Pohon Jambu rupanya telah mengetahui niatan Si pemilik tanah.
Tuan Darmono penuh ambisi untuk menebang Si Pohon Jambu. Tak lain untuk membuat bangunan baru berupa ruko tepat di atas tanah yang kini di tumbuhi 12 pohon jambu berukuran besar. Kali ini tuan darmono keliling ladang yang di tumbuhi Si pohon jambu. Nampaknya dia sedang berfikir tentang rencana pembuatan ruko tersebut.
Si pohon jambu mulai berbisik dengan ulat-ulat yang kini merangkak di dahan dan rantingnya.
“hai ulat tak bosan bosanya kau hinggap di tubuhku, aku geli dan jijik melihatmu”. ucap si pohon jambu penuh kekesalan.
“aku butuh makan, Pohon-pohon yang lain sudah tak hijau lagi semuanya layu dan hampir mengering “. Jawab Si ulat bulu dengan suara lirih seoalah memohon.
“masa bodoh aku tidak perduli dengan mu. Mau makan atau tidak bahkan mati sekali pun itu bukan urusanku. Kau juga tak memberiku manfaat apa pun. Semoga saja ada hujan dan angin lebat agar kau segerah terjatuh”. Suara si pohon jambu semakin keras.
“sungguh kau tak punya rasa iba padaku”. Kembali lagi si ulat meminta.
Nampaknya musim penghujan telah tiba. Sudah menjadi tradisi bagi ulat-ulat untuk memperbanyak generasinya. Daun-daun mulai berlubang menandakan para ulat telah makan kenyang. Tempat paling nyaman bagi ulat mungkin memang daun. Bukan hanya untuk makan, saat hujan dan panas si ulat juga bersembunyi di baliknya. Pohon jambu sudah terbiasa dengan kebiasaan si ulat. Meskipun kadang ada rasa kesal.
Kali ini Si pohon jambu merenung memikirkan bagaimana caranya agar ia tak jadi di tebang oleh si pemilik tanah. Ia mulai berdiskusi dengan pohon-pohon yang lain, dan lagi lagi mereka tak menemukan jalan keluar. Si ulat diam diam mendengarkan pembicaraan si pohon jambu. Rupanya si ualt ikut memikirkan bagaimana caranya agar si pohon jambu tidak jadi ditebang.
Tiba-tiba Tuan Dramono datang kembali dengan membawa istrinya. Rupanya tuan darmono ingin meminta pendapat istrinya.
“bagaiman menurutmu jika kita mendirikan usaha di atas tanah ini?”. Tanya Tuan Darmono kepada sang istri.
“aku setuju, aku juga sudah lama ingin mendirikan usaha sendiri. Aku sudah bosan menjadi buruh pabrik, penghasilanmu sebagai kuli juga tak mencukupi kebutuhan kita. Kapan kau akan menebang pohon jambu ini. Toh pohon ini juga tak memberi kita keuntungan. Pohonya sudah tak berbuah lagi, mungkin karena sudah cukup tua”.
“masalah pohon gampang, nanti akan ku panggilkan tukang gergaji mesin yang biasanya menebang pohon-pohon besar”. Sahut tuan darmono sembari pergi meninggalkan ladangnya.
Pohon-pohon jambu mendengarkan pembicaraan si pemilik tanah, Ia kembali ketakutan.
“apa yang harus kita lakukan ?”. salah satu pohon berbicara kepada teman-temanya.
“aku punya ide” sahut pohon jambu yang lainya.
“apa ide mu?”. tanya pohon yang lainya dengan penuh penasaran.
“bagaimana jika kita berbuah lagi supaya manusia itu tak menebang kita”.
“ide bagus” ucap pohon jambu yang masih muda.
Dari arah pojok ,pohon paling tua berkata “aku sudah tak mampu untu berbuah. Tubuhku sudah semakin tua. Hanya ada tiga pohon yang masih muda dan masih biasa berbuah. Lalu bagaimana dengan pohon lain yang sudah tua?. Si pohon berukuran besar mempertimbangkan pendapat pohon yang masih muda.
“percuma saja kalian berbuah niatan Tuan Darmono sudah bulat untuk menebang kami”.
Pohon-pohon jambu kembali memikirkan cara agar bisa bertahan hidup. Mereka kembali berdiskusi dan berbisik dengan pohon di sebelahnya untuk mencarikan jalan keluar yang tepat. Si ulat kemudian ikut berfikir jika pohon jambu di tebang ia harus tinggal di mana dan makan apa. Selama ini ia sudah nyaman berada di tubuh pohon jambu. Kali ini si ulat bulu benar-benar di buat bingung. Sembari berfikir, seperti biasa ia menggerogoti daun si pohon jambu.
“ulat cobalah kau berfikir jangan hanya makan saja. Jika aku ditebang kau mau makan apa?. Lebih baik kau kau segera pergi. Tubuhku akan di tebang dan dahanku ku akan mengering. Kau tak mungkin bisa makan dan bersembunyi di balik daun ku”.ucap si pohon jambu yang berusaha mengusir si ulat bulu.
“aku tidak akan pergi. Aku punya ide agar kalian tak jadi di tebang”
“hewan kecil sepertimu bisa apa ?. kau saja menumpang di tubuhku. menambah beban saja”. Ucap pohon jambu yang menyepelekan si ulat.
“dengarkan dulu ide ku. Aku yakin ini akan berhasil.” Suaranya lantang penuh keyakinan.
“apa ide mu hewan menjijikkan?”.
“aku akan mengundang para ulat untuk hinggap di tubuh mu. Saat manusia itu datang aku akan menyuruh pasukan ulat untuk menjatuhkan dirinya tepat di tubuh manusia itu. Aku yakin manusia itu akan lari karena melihat segerombolan ulat yang hinggap di tubuhnya. Dia tak akan berani lagi menebang pohon mu. Karena manusia itu akan merasa gatal yang luar biasa jika sampai bulu ku terkena kulitnya”.
“ide yang bagus aku setuju dengan ide mu ulat. Aku tidak pernah berfikir kau secerdik ini. Ternyata kau bermanfaat juga”. Si pohon jambu benar-benar kagum dengan ide si ulat.
Akhirnya si pohon jambu berdamai dengan para ulat bulu dan mereka bekerja sama. Berkat kecerdikan si ulat bulu, pohon jambu kini masih berdiri kokoh. Saat itu pula persahabatan Si Ulat Bulu dan Si Pohon Jambu dimulai. Kini Si Pohon Jambu tak pernah bertengkar lagi dengan Si Ulat Bulu.
Pati, Maret 2018
Kamis, 14 Desember 2017
Tipu mushlihat
Katamu aku laknat
katamu aku cacat
hidupku maksiat
Kau sendiri tak taat
Mulutmu bertaubat
Mulutmu bersholawat
Namun tak henti menghujat
Tuturmu fasih bermuslihat
Jangan lagi kau berkhianat
mengumpamakan dirimu bak malaikat
sadarlah tempat mu kelak di akhirat
sadarlah wahai umat
Pati, Desember 2017
Arti Nama Dalam Kehidupan
Pada tahun 1999 saya dilahirkan tepatnya tanggal 28 oktober di Pati Jawa Tengah. Bertepatan dengan tanggal lahirnya Sumpah Pemuda. Saya diberi nama Muryana Ovika EXtyaningrum. Mur artinya keteguhaan, Yana yang artinya bergerak, Ovika vokal O diambil dari vokal pertama bulan kelahiran yaitu oktober. Vika diambil dari bahasa polinesia artinya kemenangan dan Extyaningrum artinya di dalam jiwa. Makna keseluruhan dari nama saya adalah orang yang selalu bergerak ke arah kemenangan dengan keteguhan di dalam jiwanya. Orang tua saya memberi nama tersebut dengan harapan agar saya menjadi orang yang teguh dalam pendirian untuk mencapai kesuksesan. Bertepatan dengan hari lahirnya sumpah pemuda kakek saya memberikan nama Mur di awal nama saya . Mur yang artinya kekuatan atau keteguhan sesuai dengan semangat juang para pemuda yang mendengungkan Sumpah Pemuda. Awalan nama Mur merupakan pemberian dari kakek karena saya cucu perempuan pertamanya. Awalnya orang tua saya tidak setuju dengan nama Mur karena menurut orang tua saya nama tersebut terlalu kuno dan sudah banyak orang yang menggunakan nama tersebut. Namun karena kakek selalu bersikeras untuk memberikan nama tersebut akhirnya orang tua saya menyetujui. Saya dibesarkan di Pati tepatnya di desa slungkep Rt 2 Rw 2. Saya akrab di panggil yana namun saat saya di Kampus saya sering di panggil Ovi karena lebih mudah menghafalnya.
Ada sejarah dibalik nama saya. Keluarga saya berasal dari ekonomi yang berkecukupan tidak kekurangan dan tidak berlebih. Kedua orang tua saya juga lahir di keluarga dengan ekonomi yang sulit dan serba kekurangan. Sebelum saya lahir Ayah saya hanya seorang karyawan pabrik dengan gaji yang tidak seberapa. Ibu saya dulunya hanya seorang pedagang pakaian. Setelah saya lahir dan berumur 5 tahun, Ayah saya mencoba berwirausaha dengan berdagang kayu glondong yaitu kayu jati. Modalnya cukup besar hampir ratusan juta namun ayah saya berani mengambil resiko untuk mengubah keadaaan ekonomi yang tak berkembang. Ayah saya akhirnya mengembangkan usahanya dengan membuka Usaha Dagang (UD) furniture yang diberi nama UD Ilham Jaya dan usahanya masih berjalan sampai sekarang. Dari usaha ini ayah saya mampu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Dari sini ada keterkaitan antara nama saya dengan keadaan orang tua saya sebelum beliau sukses. Sesuai arti nama saya teguh dan terus bergerak maju , dari situ harapan orang tua saya agar saya mampu terus bergerak dan berusaha dalam keadaan sesulit apapun Seperti apa yang sudah di alami orang tua saya sedari kecil.
Pati, Desember 2017
Pati, Desember 2017
Langganan:
Komentar (Atom)