Pohon jambu air kini tak rindang lagi, daunya mulai gugur berserakan di atas tanah yang subur. Rantingnya berjatuhan ada amarah dan kesedihan yang tak bisa diungkapkan. Seakan sudah putus asa dengan nasib hidupnya.
Di desa selor pohon jambu tersebut nampak seperti tumbuhan liar, tak pernah ditanam tak pernah pula dirawat. Tepatnya di atas ladang subur berwarna merah kecoklatan milik tuan Darmono. Pohon jambu berderet empat banjar itu kini tak mampu berbuat banyak. Biasanya musuhnya hanya Si Ulat kecil yang sering menggerogoti daunya. Si pohon jambu hanya menunggu datangya hujan lebat agar hewan menjijikkan itu segera hilang dari daunya. Namun kini musuhnya bukan lagi si ulat bulu melainkan si pemilik tanah yaitu Tuan Darmono. Pohon Jambu rupanya telah mengetahui niatan Si pemilik tanah.
Tuan Darmono penuh ambisi untuk menebang Si Pohon Jambu. Tak lain untuk membuat bangunan baru berupa ruko tepat di atas tanah yang kini di tumbuhi 12 pohon jambu berukuran besar. Kali ini tuan darmono keliling ladang yang di tumbuhi Si pohon jambu. Nampaknya dia sedang berfikir tentang rencana pembuatan ruko tersebut.
Si pohon jambu mulai berbisik dengan ulat-ulat yang kini merangkak di dahan dan rantingnya.
“hai ulat tak bosan bosanya kau hinggap di tubuhku, aku geli dan jijik melihatmu”. ucap si pohon jambu penuh kekesalan.
“aku butuh makan, Pohon-pohon yang lain sudah tak hijau lagi semuanya layu dan hampir mengering “. Jawab Si ulat bulu dengan suara lirih seoalah memohon.
“masa bodoh aku tidak perduli dengan mu. Mau makan atau tidak bahkan mati sekali pun itu bukan urusanku. Kau juga tak memberiku manfaat apa pun. Semoga saja ada hujan dan angin lebat agar kau segerah terjatuh”. Suara si pohon jambu semakin keras.
“sungguh kau tak punya rasa iba padaku”. Kembali lagi si ulat meminta.
Nampaknya musim penghujan telah tiba. Sudah menjadi tradisi bagi ulat-ulat untuk memperbanyak generasinya. Daun-daun mulai berlubang menandakan para ulat telah makan kenyang. Tempat paling nyaman bagi ulat mungkin memang daun. Bukan hanya untuk makan, saat hujan dan panas si ulat juga bersembunyi di baliknya. Pohon jambu sudah terbiasa dengan kebiasaan si ulat. Meskipun kadang ada rasa kesal.
Kali ini Si pohon jambu merenung memikirkan bagaimana caranya agar ia tak jadi di tebang oleh si pemilik tanah. Ia mulai berdiskusi dengan pohon-pohon yang lain, dan lagi lagi mereka tak menemukan jalan keluar. Si ulat diam diam mendengarkan pembicaraan si pohon jambu. Rupanya si ualt ikut memikirkan bagaimana caranya agar si pohon jambu tidak jadi ditebang.
Tiba-tiba Tuan Dramono datang kembali dengan membawa istrinya. Rupanya tuan darmono ingin meminta pendapat istrinya.
“bagaiman menurutmu jika kita mendirikan usaha di atas tanah ini?”. Tanya Tuan Darmono kepada sang istri.
“aku setuju, aku juga sudah lama ingin mendirikan usaha sendiri. Aku sudah bosan menjadi buruh pabrik, penghasilanmu sebagai kuli juga tak mencukupi kebutuhan kita. Kapan kau akan menebang pohon jambu ini. Toh pohon ini juga tak memberi kita keuntungan. Pohonya sudah tak berbuah lagi, mungkin karena sudah cukup tua”.
“masalah pohon gampang, nanti akan ku panggilkan tukang gergaji mesin yang biasanya menebang pohon-pohon besar”. Sahut tuan darmono sembari pergi meninggalkan ladangnya.
Pohon-pohon jambu mendengarkan pembicaraan si pemilik tanah, Ia kembali ketakutan.
“apa yang harus kita lakukan ?”. salah satu pohon berbicara kepada teman-temanya.
“aku punya ide” sahut pohon jambu yang lainya.
“apa ide mu?”. tanya pohon yang lainya dengan penuh penasaran.
“bagaimana jika kita berbuah lagi supaya manusia itu tak menebang kita”.
“ide bagus” ucap pohon jambu yang masih muda.
Dari arah pojok ,pohon paling tua berkata “aku sudah tak mampu untu berbuah. Tubuhku sudah semakin tua. Hanya ada tiga pohon yang masih muda dan masih biasa berbuah. Lalu bagaimana dengan pohon lain yang sudah tua?. Si pohon berukuran besar mempertimbangkan pendapat pohon yang masih muda.
“percuma saja kalian berbuah niatan Tuan Darmono sudah bulat untuk menebang kami”.
Pohon-pohon jambu kembali memikirkan cara agar bisa bertahan hidup. Mereka kembali berdiskusi dan berbisik dengan pohon di sebelahnya untuk mencarikan jalan keluar yang tepat. Si ulat kemudian ikut berfikir jika pohon jambu di tebang ia harus tinggal di mana dan makan apa. Selama ini ia sudah nyaman berada di tubuh pohon jambu. Kali ini si ulat bulu benar-benar di buat bingung. Sembari berfikir, seperti biasa ia menggerogoti daun si pohon jambu.
“ulat cobalah kau berfikir jangan hanya makan saja. Jika aku ditebang kau mau makan apa?. Lebih baik kau kau segera pergi. Tubuhku akan di tebang dan dahanku ku akan mengering. Kau tak mungkin bisa makan dan bersembunyi di balik daun ku”.ucap si pohon jambu yang berusaha mengusir si ulat bulu.
“aku tidak akan pergi. Aku punya ide agar kalian tak jadi di tebang”
“hewan kecil sepertimu bisa apa ?. kau saja menumpang di tubuhku. menambah beban saja”. Ucap pohon jambu yang menyepelekan si ulat.
“dengarkan dulu ide ku. Aku yakin ini akan berhasil.” Suaranya lantang penuh keyakinan.
“apa ide mu hewan menjijikkan?”.
“aku akan mengundang para ulat untuk hinggap di tubuh mu. Saat manusia itu datang aku akan menyuruh pasukan ulat untuk menjatuhkan dirinya tepat di tubuh manusia itu. Aku yakin manusia itu akan lari karena melihat segerombolan ulat yang hinggap di tubuhnya. Dia tak akan berani lagi menebang pohon mu. Karena manusia itu akan merasa gatal yang luar biasa jika sampai bulu ku terkena kulitnya”.
“ide yang bagus aku setuju dengan ide mu ulat. Aku tidak pernah berfikir kau secerdik ini. Ternyata kau bermanfaat juga”. Si pohon jambu benar-benar kagum dengan ide si ulat.
Akhirnya si pohon jambu berdamai dengan para ulat bulu dan mereka bekerja sama. Berkat kecerdikan si ulat bulu, pohon jambu kini masih berdiri kokoh. Saat itu pula persahabatan Si Ulat Bulu dan Si Pohon Jambu dimulai. Kini Si Pohon Jambu tak pernah bertengkar lagi dengan Si Ulat Bulu.
Pati, Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar